Kala Mentan Takjub, Petani Kopi Toraja Mampu Pasarkan Kopi Secara Mandiri

Tana Toraja – Kabupaten Tana Toraja, yang berada di dataran tinggi Sulawesi Selatan, begitu terkenal dengan kopi torajanya atau lebih tepatnya arabika toraja. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang berkunjung ke Kabupaten Tana Toraja melihat ini, dan juga kakao, sebagai potensi besar untuk meningkatkan perekonomian di wilayah tersebut.

Dalam pertemuan singkat dengan warga masyarakat Tana Toraja, Amran menegaskan komitmennya untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai wilayah kopi. “Kami ingin jadikan kabupaten ini (Tana Toraja dan Toraja Utara) kabupaten kopi”, jelas Amran.

Sebagai tindak lanjut, untuk wilayah Provinsi Sulawesi Selatan sendiri diberikan 4.033.850 batang bibit tanaman perkebunan, yang terdiri dari 1.680.000 batang Kopi, 1.430.000 batang Kakao, 510.000 batang Lada, 150.000 batang Pala, dan 175.000 Cengkeh. Untuk kopi, Kabupaten Tana Toraja sendiri mendapatkan 500.000 bantang bibit, seperti halnya Kabupaten Toraja Utara.

Proses produksi benih ini menggunakan teknologi yang mampu menghasilkan tanaman dalam umur produksi lebih cepat melalui teknologi sambung pucuk, seperti komoditas kakao. Untuk saat ini, rata-rata produktifitas tanaman kopi di Indonesia hanya mencapai kurang lebih 600 kg/ha/ton, dengan adanya bibit baru dan pendampingan, diharapkan mampu mendongkrak produktifitas ke angka 3-4 ton/ha/tahun.

Dalam diskusinya dengan para petani setelah melakukan penanaman bibit kopi di Kecamatan Gandang Batu Sillan, Amran dikagetkan dengan adanya petani yang mampu mengemas kopi yang siap jual. Sebelumnya selama ini tanaman kopi djual hanya dalam produk mentah saja.

“Kami apresiasi Bupati Tana Toraja, ini luar biasa, ada home industry yang berada di tengah hutan Tana Toraja. Kami bangga dengan Bupati, PPL-nya, petaninya,” ujar Amran. Selain itu, Amran sempat mendeklarasikan brand kopi toraja yang nanti akan dipatenkan dengan nama “Kopi Jantan Toraja”.

Dalam penjelasannya kepada awak media, Amran menyatakan bahwa tujuan kedatangannya kali ini, karena ingin memberikan bantuan bibit kopi. “Kemudian kita mengajari dan mengedukasi mereka budidaya, kemudian juga processing-nya. Kami membayangkan nanti dari kelompok tani langsung supermarket bahkan langsung ekspor. Inilah harapan bapak Presiden”, ungkapnya.

Menteri Amran dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa saat ini yang dibutuhkan tidak hanya bekerja keras, tetapi juga harus bekerja cerdas. “Added valuenya (kopi toraja) kalau dijual kiloan hanya 30 ribu tapi kalau dijual kemasan seperti ini harganya di tingkat petani 250 ribu. Insyaallah kami akan keluarkan SK khusus untuk penghasil kopi Indonesia”, tutupnya.

Previous «
Next »

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.