Pasar Kopi Instan Indonesia Senilai 8 Triliun ke Filipina Kembali Terbuka

Jakarta – Filipina sempat menghentikan ekspor kopi instan Indonesia karena persoalan keamanan pangan. Dalam hasil pertemuan konsultasi Badan Karantina Pertanian (Barantan), yang digelar di Jakarta pada Rabu (19/12/2018), otoritas Filipina menyatakan segera akan membuka kembali pasarnya.

Pihak Indonesia yang diwakili oleh Kepala Barantan Banun Harpini menyatakan, Filipina sudah berjanji segera menerbitkan surat edaran bea cukai atau Custom Memorandum Circular (CMC) yang akan digunakan untuk mencabut kebijakan pengamanan atau Special Safeguard (SSG) terhadap kopi instan asal Indonesia.

“Alhamdulilah, kita berhasil melakukan negosiasi untuk kembali mengantarkan produk petani kopi kita ke Filipina,” kata Banun dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/12/2018).

Pemerintah Filipina sebelumnya memberlakukan SSG, dengan meningkatkan bea masuk terhadap ekspor kopi dari Indonesia. Hal tersebut tentunya sangat merugikan petani kopi dan juga neraca perdagangan Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor produk yang dikenakan kebijakan pengamanan oleh pemerintah Filipina itu berkisar antara USD 350 juta-400 juta per tahun atau sekitar Rp 5,67 triliun, dan ditambah dengan pendapat lainnya yang dapat mencapai USD 600 juta atau Rp 8,64 triliun.

“Sesuai arahan Presiden, pertemuan ini menjadi sangat penting guna memperkuat kerja sama dalam menghadapi perdagangan global, dan sejalan dengan semangat kedua negara di Masyarakat Ekonomi ASEAN dalam mendukung kemitraan ekonomi komprehensif regional,” tutur Banun.

Sementara itu, Direktur Layanan Riset Kebijakan, Kementerian Pertanian Filipina Noel A. Padre yang mewakili delegasi Filipina menyatakan, pihaknya berjanji segera mengomunikasikan dengan pihak terkait di negaranya guna penerbitan CMC, paling lambat 2 (dua) bulan ke depan.

Delegasi Filipina juga menyampaikan permohonan terhadap komoditas pertanian Filipina berupa pisang cavendis, nanas, dan bawang merah agar dapat masuk ke Indonesia melalui pintu pemasukan di Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara. Hal ini juga disepakati pihak Indonesia sepanjang dua persyaratan dari Indonesia terpenuhi, yakni keamanan pangan dan daerah bebas hama penyakit tumbuhan atau pest free area.

Sebagai negara mitra dagang, Barantan menyatakan siap melakukan fasilitasi sesuai dengan prosedur perkarantinaan. “Kami segera menyerahkan Indonesian Quarantine Pest List bagi komoditas baru yang akan masuk Indonesia, dan ke depan hendaknya segera dibangun Manajemen Risk Communications, agar lalu lintas perdagangan komoditas pertanian Indonesia-Filipina menjadi lebih lancar,” pungkas Banun.

Pertemuan dihadiri juga oleh Duta Besar Indonesia untuk Republik Filipina, Sinyo Harry Sarundajang dan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan, Direktur Asia Pasifik, Kementerian Luar Negeri dan pejabat dari Kementerian Pertanian.

Previous «
Next »

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.