Pengembangan Pelabuhan Optimalkan Potensi Komoditas Bima

Selasa, 12 September 2017

Bima – Pulau Sumbawa merupakan pulau yang memiliki potensi pertanian dan peternakan melimpah, seperti sapi dan bawang merah. Untuk mengoptimalkan potensi komoditas yang ada di Pulau Sumbawa, Pemerintah menggandeng PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III (Persero) untuk mengembangkan Pelabuhan Bima.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat menyaksikan penandatanganan kesepakatan bersama antara Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Bima dengan Pelindo III Tentang Pemanfaatan Barang Milik Negara, di Kampus STKIP Taman Siswa, Bima, pada Minggu (10/9/2017), menyampaikan bahwa hari itu dirinya telah mengunjungi 4 lokasi, yaitu Kupang, Rote, Waingapu dan terakhir ini di Bima.

“Semuanya saya lihat masing-masing daerah punya keunggulan komparatif. Salah satunya keunggulan Bima adalah lahan subur dan masyarakatnya bersemangat. Sehingga semuanya jika dirangkai dapat membuat suatu keberhasilan pembangunan indonesia,” ujarnya.

Budi Karya menjelaskan bahwa dirinya memiliki target untuk meningkatkan aksesibilitas Indonesia Timur, sehingga disparitas antar wilayah bisa dikurangi. “Setelah hilang disparitas, ada konsep trade follow the ship, kapal-nya kita bikin dan ekonomi tumbuh. Kalau di sini semua di Kabupaten di timur ini tumbuh, yang tadinya dia itu minus atau ada lebih sedikit maka akan menjadi kekuatan ekonomi baru, karena Indonesia Timur ini luas. Oleh karenanya kita galakkan agar tidak ada perbedaan antara Timur dan Barat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala KSOP Kelas IV Bima Muhammad Junaidin pada kesempatan yang sama mengatakan, Pulau Sumbawa memiliki kekayaan komoditas pertanian dan peternakan yang melimpah. Komoditas bawang merah diangkut setiap Selasa dan Kamis. Komoditas ini dikirim untuk pasokan ke Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga ke Papua, dan mencapai produktivitas puncak saat musim kemarau.

Tantangan angkutan laut untuk bawang merah ini besar, sebab bawang merah mudah busuk. Untuk itu, saat ini dibutuhkan Kontainer khusus untuk mengangkut bawang ini. Jika sudah menggunakan kontainer, maka pengirimannya bisa masuk tol laut.

“Bawang merah sekali kirim bisa 400 ton, atau seminggu 800 ton. Kalau ada kontainer khusus kapasitas 20 ton. Kalau ada pendingin, bawang tidak cepat busuk,” ujar Junaidin.

Sementara untuk sapi, menurut Junaidin setiap bulan terkirim 1.500 ekor sapi. Pengiriman paling banyak ke Surabaya, Kalimantan, dan Sulawesi. Pengiriman hewan ini umumnya menggunakan kapal pinisi dari kayu. Namum permukaan kapal pinisi ini tidak rata, sehingga bongkar muatnya membuat sapi tidak nyaman.

“Saat ini baru 1 kapal ternak yang dioperasikan Pelni yang mengangkut sapi dari Kupang. Jika dari Kupang sudah penuh, maka peternak Bima tidak kebagian tempat,” terang Junaidin.

Dirinya berharap agar ada jadwal tetap angkutan hewan, sehingga mempermudah angkutan ternak. Saat ini setidaknya 70 persen sapi terangkut karena masih ada kapal tradisional, kondisi ini cukup untuk sekedar menjadikan bisnis mereka tidak mati.

“Bima agar diberikan satu atau dua kapal ternak dari lima kapal yang dipesan Kemenhub tahun ini. Satu kapal bisa memuat kurang lebih 500 ternak,” tutupnya.

Previous «
Next »

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.