September 2017, Bahan Makanan Deflasi 0,53 Persen dan NTP Naik 0,61 Persen

Jakarta – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto menyebutkan, pada September 2017 ini terjadi peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 102,22 atau naik 0,61 persen dari bulan Agustus 2017 yang hanya 101,60, sebagaimana rilis resmi BPS di Jakarta, Senin (2/10/2017).

NTP merupakan perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, maka secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Demikian pula dengan NTUP nasional, pada September 2017 tercatat 110,91 atau naik 0,27 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya. “Pada September 2017 ini pun terjadi kenaikan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) sebesar 0,27 persen,” ujar Suhariyanto.

NTUP adalah rasio indeks harga yang diterima petani dari usaha pertanian terhadap indeks harga yang dibayarkan petani untuk pengeluaran usaha pertanian. NTP dan NTUP di atas 100 menunjukkan petani surplus, sama dengan 100 berarti impas sedangkan di bawah 100 berarti petani rugi/defisit.

“NTUP sendiri merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima oleh petani dengan indeks harga yang dibayar oleh petani, di mana komponen yang harus dibayar hanya meliputi biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM). Secara k,onseptual, NTUP mengukur seberapa cepat indeks harga yang diterima oleh petani dibandingkan dengan indeks harga BPPBM,” paparnya.

Suhariyanto menjelaskan pula, secara keseluruhan pada September 2017 terjadi deflasi atau penurunan harga untuk kelompok bahan makanan sebesar 0,53 persen. Deflasi tersebut menunjukan penurunan indeks dari 140,06 pada Agustus 2017 menjadi 139,32 pada September 2017. Tercatat, pada Agustus 2017, kelompok bahan makanan juga mengalami deflasi yakni 0,67 persen.

“Pada kelompok bahan makanan September 2017, terdapat 5 subkelompok mengalami deflasi. Subkelompok yang deflasi tertinggi yaitu bumbu-bumbuan 2,91 persen dan terendah subkelompok buah-buahan 0,39 persen,” ungkapnya.

Menurut Suhariyanto, kelompok bahan makanan pada September 2017 ini memberikan andil atau sumbangan deflasi sebesar 0,11 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan deflasi tersebut yakni bawang merah sebesar 0,04 persen, daging ayam ras dan bawang putih masing-masing sebesar 0,03.

Previous «
Next »

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.