Subak Guama, Korporasi Petani Bali Beraset 6 M

Bali – Menteri Pertanian Amran Sulaiman ketika melantik Pejabat Tinggi Pratama lingkup Kementerian Pertanian di Auditorium Kementan Jakarta, Jumat (15/9/2017) menyatakan rencananya untuk semakin meningkatkan kesejahteraan petani melalui pembentukan kelompok-kelompok petani. Kelompok tani ini kemudian akan digabungkan sehingga membentuk kelompok tani besar.

Nantinya akan terbangun industri pertanian yang yang berada di lingkaran petani sendiri, dan para petani langsung yang menerima manfaatnya. “Petani nanti tidak menjual gabah, tapi menjual beras, petani nanti membuat benih sendiri, ini bisa diasuransikan dengan mudah, alat mesin pertanian kita lengkapi (tambah) semua full mekanisasi, bisa akses langsung bank”, jelas Amran.

Bali sejak lama telah memiliki kelompok usaha tani yang dikenal dengan nama subak, sejarah awalnya subak merupakan perhimpunan petani yang bertugas untuk mengatur pengairan persawahan, dan juga sebagai bentuk gotong royong petani untuk mengembangkan pertanian kelompoknya.

Salah satunya adalah Subak Guama, Subak Guama terbentuk sebagai bagian Proyek Pengembangan Padi Terpadu (P3T) Bali, didirikan pada tanggal 1 April 2002 dan memiliki badan hukum koperasi No: 22/BH/Diskop/VIII/2003, tertanggal 14 Agustus 2003.

Awalnya Subak Guama mendapatkan dana Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat (BPLM) Senilai Rp. 843.200.000,-. Pinjaman ini dimaksudkan untuk mengelola 3 (tiga) jenis kegiatan, yaitu Pengelolaan Padi Terpadu senilai Rp. 98.000.000,-, Integrasi Padi-Ternak senilai Rp. 663.500.000,-, dan Kegiatan Karya Usaha Mandiri senilai Rp.81.700.000,-.

BPLM yang diterima dari Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian Provinsi Bali, pengelolaannya dilakukan melalui Lembaga Manajemen yang disebut KUAT (Koperasi Usaha Agribisnis Terpadu) Subak Guama. Hebatnya, KUAT Subak Guama menggunakan standar manajemen Ikatan Akutansi Indonesia (IAI) dengan pola Akutansi Perusahaan Modern (APM).

Subak Guama kemudian memanfaatkan dana bantuan tersebut untuk mengelola unit-unit usaha seperti, integrasi sistem padi-ternak, kegiatan penyaluran saprodi, Kredit Usaha Mandiri, usaha prosesing kompos, serta unit pelayanan jasa alat dan mesin pertanian, seperti hand traktor, power thresher, dan seeder. Di samping itu, Subak Guama juga mengembangkan usaha penangkaran benih padi, yang mana hingga saat ini rata-rata telah menghasilkan benih di berbagai kelas dan bersertifikat sebanyak ± 250-300 ton dalam satu tahun.

Usaha keras ini membuahkan hasil manis, hingga Juli 2017 aset yang dimiliki KUAT Subak Guama telah mencapai Rp. 6,9 M. “Subak Guama ini patut menjadi contoh pengelolaan korporasi petani dalam kelompok besar, dengan pengelolaan yang disesuaikan dengan potensi pertanian setempat,” jelas Agung Kamandalu, Peneliti dari BPTP Balitbangtan Bali.

Subak Guama memanfaatkan modal kelompoknya untuk semaksimal mungkin meningkatkan kesejahteraan seluruh anggotanya sejumlah 544 orang, dengan rata-rata kepemilikan sawah ±0,33 ha. Pemanfaatannya, menurut Agung, dilakukan sesuai dengan program yang dicanangkan pemerintah, yaitu mendukung program ketahanan pangan dan pengembangan agribisnis yang berbasis kerakyatan yang mandiri, dan berkelanjutan.

Subak Guama terletak di tiga wilayah pemerintahan desa, yaitu Desa Batamnyuh, Desa Selambawak, dan Desa Peken dengan topografi 200 – 215 mdpl, yang merupakan areal persawahan dengan luas ± 172 ha. Subak ini terdiri dari tujuh sub kelompok/tempek, yaitu Tempek Manik Gunung, Tempek Pekilen, Tempek Kekeran Desa, Tempek Kekeran Carik, Tempek Belusung, Tempek Guama, dan Tempek Celuk.

Previous «
Next »

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.