Susi: Tadinya Terbelakang, Perikanan Indonesia Jadi Nomor Satu di Asia Tenggara

Jakarta – Pada Journalist Briefing Our Ocean Our Conference (OOC) 2018 di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan bahwa Our Ocean Conference 2018 akan digelar pada 29-30 Oktober mendatang di Bali, dengan KKP dan Kementerian Luar Negeri sebagai penyelenggara.

OOC 2018 akan diikuti oleh multi-stakeholders yang terdiri dari pemerintah, LSM/NGO, sektor swasta, public figure, dan sebagainya. Setidaknya sudah ada 6 kepala negara dan pemerintahan, 32 menteri, dan 1.696 delegasi yang mengonfirmasi kehadiran, dan diperkirakan akan terus bertambah.

“Dalam forum ini, akan diberikan sharing keberanian Indonesia dalam membawa perubahan perikanan dengan pengelolaan yang berkelanjutan. Ternyata terbukti bisa membalikkan neraca perdagangan perikanan yang tadinya defisit, yang terbelakang di Asia Tenggara, 4 tahun belakangan menjadi yang pertama di Asia Tenggara,” tutur Menteri Susi.

Dengan menjadi tuan rumah OOC 2018, Menteri Susi menyebutkan Indonesia akan menerima manfaat ekonomi yang besar. Sustainable blue economy dan berbagai rencana aksi lainnya yang dicanangkan merupakan upaya untuk meningkatkan manfaat ekonomi kelautan dan mencegah kerusakan laut.

“Keuntungannya memang tidak bisa dilihat satu hari untung 10 perak. Ya bukan begitu. Tapi secara environment, secara blue economy principle, dan sustainability, sumber daya laut kita akan terjaga. Kita ingin memastikan bahwa sumber daya laut ini ada, produktif, sehat, revitalize the world,” terang Menteri Susi.

Climate change itu merugikan semua orang, lanjutnya. “Keuntungan kita apa mencegah climate change? Luar biasa. Nilai uangnya tidak terkira. Karena jika suhu naik 2 derajat, orang juga akan kepanasan, manusia juga bisa terancam kehidupannya. Hutan bisa hancur karena suhu bumi terlalu panas. Jadi tidak bisa langsung menghitung keuntungannya apa, pokoknya keuntungannya banyak, besar, dan tidak terkira,” imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Retno mengatakan, di sisi diplomasi, saat Indonesia bicara masalah laut atau isu lain yang terkait laut, sejatinya Indonesia bukanlah membicarakan kepentingan negara lain, melainkan kepentingan utama negara sendiri yang kebetulan juga menjadi kepentingan internasional. Terlebih, sebagai anggota G20, Indonesia harus memberikan kontribusi nyata kepada dunia.

“Rekam jejak diplomasi Indonesia untuk kemanusiaan sudah terbukti. Saat bicara perdamaian, pasti nama Indonesia top up. Nah, kita juga ingin berinvestasi untuk ocean diplomacy, dan penyelenggaraan OOC ini merupakan satu tindakan konkret Indonesia untuk menunjukkan our legacy, our ocean issues atau our ocean related issues,” ujarnya.

Menurut Menteri Retno, sebuah negara akan dihormati oleh dunia sesuai dengan rekam jejak dan kontribusinya bagi kemaslahatan orang-orang di dunia, termasuk juga kepentingan laut dunia.

Previous «
Next »

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.